Sepanjang
pagi hari tadi kuhabiskan dengan glundang-glundung
di kasur. Bergelung dengan sisa parfum di selimut yang disemprotkan oleh
mbak-mbak binatu sebelah kost. Sambil mengikuti berita lewat media daring
tentang gempa susulan beberapa kota di
Jepang. Baru benar-benar beranjak dari kasur setelah kebutuhan biologis (makan)
semakin mendesak. Sarapan yang dirapel dengan makan siang ini berupa mie instant hangat dengan irisan bayam
dan wortel dari polybag yang dirawat
sejak 1,5 bulan yang lalu. Tak lupa secangkir teh pekat baru diseduh yang turun
drastis angka konsumsinya (pribadi) sejak semester lalu. Berbicara perihal teh
dan mie instant, kuanggap ini
sebebagai liburan lokal pengganti kebiasaan minum ocha, dan makan ramen di
Jepang yang masih diuusahakan. Ini bagian dari intermezo saja, karena sedang lapar.
Sesorean
kemarin banyak kujumpai kejutan. Dari berkenalan dengan orang yang pertama kali
berjumpa, tawaran untuk menambah ilmu, dan juga celetukan yang menyentil
kuping. “Kamu kuliah di jurusan apa?”, itu ucapan setelah ia melihat sebuah
buku catatan mini ku keluarkan dari tas. Tak hanya itu, si penanya juga
mengaitkan dengan selera musik yang kudengar lewat Youtube. Tentang buku mini
yang kujuluki buku monyet, (ku adopsi dari sebutan yang diberikan dosenku ketika
awal pertemuan semester 1) memliki sampul depan dengan tulisan typografi
berbagai kata yang berhubungan dengan multimedia. Pernah juga disangka sebagai
mahasiswa design gara-gara dinding
kamar kost berubah menjadi mading pribadi.
Buku
mini ini berisi beragam coretan tinta, mulai dari agenda kegiatan harian, quotes, ide
serampangan yang tiba-tiba muncul, sampai uneg-uneg
harian. Isinya beragam lah. Aku sudah menulis di buku mini yang akhirnya
kujuluki buku monyet ini semenjak bangku akhir SD. Dari mulai menulis dengan
saya di orji (binder mini beragam warna) hingga jilidan kertas sisa
fotocopy-an. Kumpulan buku monyet itu berasal dari pemberian iseng, atau
sekadar nabung untuk memuaskan
keinginan. Tentang bentuk, aku tak pernah mempermasalahkan karena tidak terlalu
mengikuti mode. Aku paling suka
dengan buku monyet bersampul wajah Conan (tokoh serial anime detektif) yang
diberikan secara cuma-cuma oleh seorang teman. Karena diberi oleh teman, maka
buku monyet tersebut pun ‘dicoret’ oleh teman yang lain. Membawa buku monyet
merupakan sebuah keharusan, menulis dengan tiba-tiba ketika berjalan santai itu
amat mengasyikkan. Atau sobekaan kertas berisi sajak bisa dilarung kepada
Neptunus.
Selain
buku monyet dengan sampul typografi, orang menebak aku berada di major dengan
lagu yang ku nikmati. Akhir-akhir ini aku menggandrungi musik instrumen atas
saran salah seorang teman untuk menemani belajar, atau sekadar memanjakan
gendang telinga. Sesekali mendengarkan lagu lawas grup vokal ABBA, Westlife,
permainan piano Geschwin, Bethoven dengan ‘Fur Elise’ nya, atau gesekan biola
dari David Garrett. Saya mahasiswa sejarah yang mulai belajar mencintai mata
kuliah (lagi), dan berusaha menyerap berbagai informasi. Ada senyum simpul yang
kerap mengembang ketika orang-orang menebak dengan kurang tepat perihal jurusan
di bangku kuliah.
Kalu
perihal selera musik atau seni, aku tak berani menyimpulkan ikut dalam aliran
apa. Pasalnya, berbagai seni mudah membuatku jatuh hati. Sayangnya, tak pernah
menekuni dari usia belia. Aku suka melihat lukisan pointilsm Afremov yang rupanya mengikuti aliran Impresionisme Paul
Cezanne yang hidup sezaman dengan George Seurat. Lukisan surealisme ala
Salvador Dali pun aku menyukainya, lepas dari komposisi warna dan tata letak
objek. Sayang, aku tak mau belajar sedari dulu. Aku juga suka dengan instrumen
piano Mozart, Chopin, Bach, ataupun Bethoven. Tapi tak pernah mengerti nomor
instrumennya. Akhir-akhir ini aku sedang keranjingan dengan musik cover dari
alat musik biola, beatbox, juga acapella. Lagi-lagi, aku tidak mau
belajar sekalipun dengan cara otodidak. Terlalu malu.
Tentang
musik dan nada, jadi teringat cuplikan penjabaran relasi antara nada dan bahasa
matematika dari mbah Sujiwo Tejo. Budayawan, sekaligus orang yang paham bahasa
matematika. Dalam salah satu talk shownya
(coba cari dengan keyword Sujiwo Tejo di Youtube), ia mengatakan bahwa bahasa
matematika adalah bahasa keindahan. Nada yang dihasilkan alat musik adalah anak
turunnya. Seharusnya yang menyukai seni dan sastra juga pandai di bidang
matematika.
Lah,
jane sih begitu mbah. Apa daya saya yang sudah terlanjur melarung buku
matematika ke sungai Brantas, dua tahun silam. Perihal lagu dan seni, itu
hanyalah masalah selera pribadi. Asal melodi enak didengar di telinga, aku tak
perlu membuktikan kedua kali untuk memutuskan bahwa aku jatuh hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar