Label

Tampilkan postingan dengan label #Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Mei 2017

Pesan dari Jakarta

Perjalanan menuju gedung ANRI
Dalam rangka kuliah lapangan, kami sekelas bersepakat mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 9-10 Mei. Tentu saja kami harus menyiapkan segala bahan untuk berburu bahan bakar bagi proposal penelitian dan calon skripsi kami. Baik pakaian yang akan di bawa, bahan logistik dan daftar data yang akan dicari. Pada (09-05), kurang lebih menjelang pukul 10.00 kami baru memasuki di wilayah Jakarta Selatan. Gedung tingi menyambut kami yang berada di dalam bis batman, bukan pemandangan yang asing sebenarnya. Namun, apa yang saya lihat saat itu adalah pembangunan infrastruktur di berbagai sisi.
Jakarta sudah menerapkan teknologi hunian dan tata kota vertikal seperti apa yang diproyeksikan oleh orang-orang yang berkutat dengan statistik. Jalan layang, hunian, taman sudah mulai ditata sedemikian rupa. Tentunya untuk sedikit menghambat pembangunan jalan raya, kemudian disediakan transportasi masal berupa Transjakarta (Tj). Mantan plt gubernur Jakarta yang sekarang terdakwa kasus penistaan agama, pernah menganggarkan dana untuk pembelian armada Tj menjadi 3,2 triliun pada 2017 ini. uang sebanyak itu juga akan digunakan untuk menambah tetek-bengeknya, termasuk halte dan penambahan rute. Entah, Jakarta akan berhenti sumpek pada tahun berapa. Kenyataannya, kemarin bus kami terjebak kemacetan yang katanya di luar jam kerja.
Bicara tentang kemacetan Jakarta, jalur Transjakarta yang diterabas, tentunya tak akan pernah habis. Maka, kami amat bersyukur ketika tiba di ANRI dengan selamat pada pukul 11.00. karena sudah teramat siang sampai di tujuan, kami disambut ala kadarnya. Hal tersebut juga menyesuaikan dengan jam layanan yang berlaku di sana (08.00-12.00), kemudian dilanjut (13.00-16.00). Ada dua teman kami yang tiba terlebih dahulu, yaitu Caca dan Inu. Pada mulanya saya tak menyadari kehadiran Inu, karena dia tidak berkabar sebelumnya.
Ada beberapa jenis arsip yang tersedia, dari periode VOC hingga republik. Arsip-arsip tersebut berbentu kertas kolonial, kartografi, mikrofilm, juga berbentuk foto. Namun, sebelum mencari bahan baku tersebut, kami harus mencari jenis arsip yang diinginkan melalui katalog. Pencariannya memakan waktu yang lumayan banyak. Berbeda dengan arsip masa republik yang dapat ditelusuri dengan katalog online, masa kolonial harus dicari secara manual melalui buku inventaris dan guide berdasarkan kementrian yang menaungi, maupun berdasarkan wilayah cakupan. Penelitian saya tentang industri hilir dari pabrik gula yang ada di Jawa Timur, maka saya harus mencari katalog wilayah Surabaya, algemeene secretarie, dan beberapa foto. Arsip perihal pembangunan suikerfabriek  atau spiritus tidak saya temukan. Mungkin waktu itu saya yang kurang telaten untuk mencarinya dengan kosakata lain. Begitu pula dengan asip foto, saya meminta 5 arsip foto. Satu tentang tumpukan ampas tebu di halama Sf. Gempolkrep, tiga foto udara komplek industri di Gudo, Pasuruan dan Surabaya. Dan dua foto udara pabrik minuman keras “Heinekens Nederland Brouwerij” dan Pabrik Nederland Indische produsen Bir Jawa di Surabaya. Baru saya ketahui, bahwa Heinekens adalah cikal bakal dari bir Bintang yang namanya sudah kondang di Jawa, bahkan dekat dengan kehidupan salah seorang teman saya.

Kamis, 16 Februari 2017

Sembilan Jam Sebelum Pulang



Sebagian potret gunung Penanggungan dan persiapan lahan sawah pasca panen

Saya mau melanjutkan cerita sisa liburan semester ganjil lalu.

Riak-riak air turut membawa beberapa daun bambu yang gugur di atas kali Kromong. Aliran sungai berwarna coklat tua, nampak seperti susu coklat yang siap ditenggak ketika saya mulai memasuki wilayah Padi.  Aroma embun pegunungan, cemara angin, bawang senthir yang dicuci di sungai bercampur jadi satu di udara.  Saya tak tahu di mana sumber mata air utama sungai ini, mungkin ada di sekitar tubuh gunung Penanggungan. Saya menuju Sajen, sebuah desa di kecamatan Pacet, hanya 30 menit perjalanan menggunakan motor dari kediaman saya. Amat berbeda ketika saya diajak “naik” belasan tahun yang lalu. Jalanan yang sempit dan terjal mugkin menjadi salah satu mengapa perjalanan saya bersama bapak kala itu cukup lama. Sekarang jalan akses ke Pacet dan wisata yang ada “di atas” telah diperlebar.
Pada (9/01), saya menggunakan kesempatan hari terakhir saya di kampung halaman dengan main ke Pacet. Sendirian, dengan membawa ransel berisi barang dan buku, pasokan liburan di rumah selama 2 minggu. Padahal sudah pamit kembali ke Yogyakarta pada pagi itu. *Tolong jangan ditiru*. Saya sempat mampir ke rumah saudara. dulunya kami *saya dan saudara sepupu sering berkumpul di sana, hanya sekadar main. Tempat pertama kalinya saya merasa punya teman sepermainan yang bisa dirindukan, sebab jaraknya 30 KM dari rumah. Tempat pertama kali saya naik sepeda kemudian nyusruk di halaman masjid dan diobati dengan tumbukan daun pete, sampai rumah saya dimarah-marahi karena dikira nyusruk di jalan raya. Juga tempat saya kejedot batu, ketika balapan renang di kali Kromong. Namun kali itu saya tidak akan mengulangi keseruan pengalaman masa kecil. Saya hanya duduk manis, sambil mengobrol menanyakan kabar keluarga, sedikir bercerita tentang perkembangan belajar di Yogyakarta, dan seperti masa-masa sebelumnya, saya pamit untuk bermain dengan air sungai yang bening.

Selasa, 29 November 2016

Nge-Random ke Solo Lagi


Kali ini saya tidak melakukan perjalanan sendiri. Tidak seperti pengalaman seminggu sebelumnya. Tujuannya ke Solo, nama daerah tersebut muncul begitu saja selepas makan siang yang merapel sarapan. Tak ada waktu untuk mencari destinasi wisata, atau tempat yang akan dikunjungi, atau mencicip makanan khas di sana. Persiapannya hanya setengah jam, termasuk mandi dan menjemput rekan. Tetapi terpaksa balik kost karena surat kendaraan sempat  tertinggal.
Pukul setengah duabelas kami berangkat. Matahari sedang terik-teriknya ketika kami meninggalkan Yogyakarta, melintasi Klaten, Sukoharjo dan berakhir di Solo. Sesekali menerabas lampu merah yang bikin saya ingin misuh-misuh. Sepanjang jalan membicarakan beberapa hal, termasuk bedanya angkringan, hik, dan wedangan. Itu gara-gara pertanyaan receh “di Klaten ada yang jualan nasi kucing gak ya? Atau, kenapa nama makanan khas suatu daerah harus punya identitas ketika berada di luar daerah asalnya? Mie Aceh, atau nasi Padang misalnya,” kurang lebih begitu pertanyaan yang saya layangkan. Sebab, dari beberapa artikel yang saya baca, nasi kucing berasal dari daerah Cawas. Desa kecil di ujung selatan kabupaten Klaten yang berbatasan dengan wilayah Gunung Kidul. Kata rekan saya, nama yang berbeda tersebut tergantung pada tempat dan cara menikmatinya yang berbeda. Di Solo disebut Hidangan Istimewa... (HIK). Namun, saya belum dapat kepastian tentang kepanjangan huruf K nya. Dijajakan dengan berkeliling di sekitar keraton Solo dengan pedagangnya yang membawa dingklik (kursi kecil). Berbeda dengan cara penyajian di Yogyakarta, pembeli menikmati nasi kucing dengan ngangkring (nangkring di atas kursi).
Masuk wilayah Solo, kami hanya mengandalkan papan petunjuk jalan. Pasar Klewer yang jadi tujuan pertama. Pasar sementara berada di alun-alun utara keraton Mangkunegara, sebab pasar Klewer mengalami kebakaran dan sedang dalam masa renovasi. Lagi, perang crane di angkasa. Kami tak mendapati apa-apa selain penjual kain dan baju. Mirip seperti lapak di pasar Beringarjo. Beberapa lapak menempati pendopo keraton yang dibangun oleh Pakubuwono ke XII kalau tak salah. Tak jauh dari pasar sementara, terdapat masjid Ageng Keraton Surakarta Hadiningrat. Masjid bergaya joglo itu terkesan lebih sederhana dibandingkan dengan masjid Agung Keraton Yogyakarta. Namun yang paling terlihat mencolok adala identitas masa pembuat bangunan. Mungkin sebagai alat legitimasi kekuasaan. Menunjukkan bahwa perekonomiannya maju dan digunakan untuk pembangunan. Kira-kira begitu.
Kemudian kami berniat mengunjungi Keraton Mangkunegara yang kini sudah menjadi museum, tidak sempat masuk ke dalam ruangannya. Karena sudah hampir tutup, kami hanya lewat sepanjang luar tembok pembatas. Sampai menuju alun-alun kidul yang menjadi tempat berkubang para kerbau bule. Selepas dari area keraton, kami sudah tak tahu arah. Palang menunjukkan ke arah Solo baru, dan kami gak tahu bakalan menemukan apa-apa di sana. Putar balik ke arah keraton lagi, mencicip es dawet yang isinya macam-macam. Amat berbeda dengan es dawet yang sering dijumpai di Jawa Timur yang berisi dawet, santan aroma pandan, dan gula merah. Sebenarnya baru kepikiran akan mampir ke Taman Sriwedari untuk melihat pertunjukan atau semacam pameran. Sayangnya kami tidak menemukan jalan kembali ke sana.

Sudah sore, dan mendung mulai berarak. Banyak petugas parkir yang menggunakan lurik. Identitas rupanya. Pulang, kami terjebak guyuran hujan di Sukoharjo. Musim hujan kali ini juga diikuti angin ribut. Beberapa pohon tumbang, dan ruas jalan penuh dengan genangan air hujan. 

Rabu, 23 November 2016

Pulang Ke Yogyakarta

masih ada semacam hutang untuk mencicip sanger, ayam tangkap, mie caluk, roti samahani, dan kuliner lain yang diolah di peruhan dengan penduduk yang ramah.

Yogyakarta ibarat rumah kedua bagi saya, daya tawar bagi kerinduan-kerinduan yang membuncah. Mau tak mau tempat ini menjadi  sarang untuk mengenyam pendidikan  1,5 tahun kedepan (mungkin). Seminggu menjejakkan tanah rencong membuat saya berpikir tentang pola adaptasi yang cepat. Waktu seminggu lebih banyak diisi dengan keterkejutan bertemu dengan teman-teman baru yang mayoritas berasal dari tanah Sumatera. Gaya bicara yang cepat, bahasa Indonesia dengan logat daerah membuat saya lemot luar biasa untuk mencerna kata-kata. Di malam pertemuan terakhir, lebih dari separuh teman baru mengatakan bahwa saya amat pendiam. Sampai ada yang khusus bertatap muka untuk mengatakan “mari kita berbicara.”
Ini semacam pembelaan. Bukankah akan lebih baik ketika memasang telinga dan menjadi pendengar yang baik di tempat baru? Menjadi sepotong spons untuk menyerap banyak informasi. Waktu seminggu menjadi amat singkat untuk belajar kultur masyarakat Banda Aceh. Terlampau singkat memang, sehingga tak perlu banyak yang dikatakan. Jika disuruh berbicara tentang keindahannya, paling tidak saya masih ada beberapa kalimat untuk mendefinisikannya selepas musibah tsunami sebelas tahun silam.

Selasa, 15 November 2016

Menjejak Tanah Serambi Mekah #2

koridor bandara Kualanamu-Medan

Deru mesin pesawat tinggal landas bak hujan yang bergemuruh di gendang telinga. Penerbangan pertama, rasanya seperti berlari kencang sembari merentangkan tangan kemudian melompat menangkap udara yang terkumpul. Melambung, kemudian bergetar sebentar di seluruh badan pesawat. Selebihnya hanyalah khayalan, tentang butiran air yang menggantung di udara, dan seolah transportasi udara ini turut menggantung tanpa melaju. Padahal, kecepatannya melampaui 800 km/jam. Sesekali terasa badan pesawat miring ke kiri  dan sadar bergerak ketika dapat melihat daratan dari ketinggian. Cuaca cerah, ditandai dengan teriknya matahari diatas ketinggian 9215 mdpl. Gendang telinga serasa mengembang, ketika pilot menaikkan ketinggian penerbangan.

Senin, 14 November 2016

Menjejak Tanah Serambi Mekah #1


Persiapan serba terburu-buru. Satu list keinginan, atau mungkin list kebutuhan telah tercapai dengan cara melarikan diri ke luar pulau Jawa selepas semester 4. Pertengahan November harus sudah tiba di Unsyiah-Banda Aceh. Ada ketakutan, ragu, cemas, dan was-was menyeruak menjadi satu. Namun, pejalanan yang mau tak mau serba dadakan tersebut menuai kata harus. Sebuah konsekwensi dari sebuah pilihan. Izin kuliah selam seminggu, padahal jatah bolos sudah habis semenjak kuliah paruh pertama.
Perjalanan panjang ini dimulai pada Sabtu sore (12/11) yang cukup terik dari stasiun Lempuyangan menuju stasiun Pasar Senen. Selama 8 perjalanan darat ini diwarnai dengan percakapan dengan dua penumpang lain. Di sebelah kiri kursi saya adalah seorang bapak yang telah memasuki usia senja, alumnus ITB jurusan Teknik arsitektur, 45 tahun silam. Saya berdecak, agak kagok untuk memulai sebuah percakapan. Dan seseorang lagi yang duduk berseberangan dengan saya adalah mahasiswa semester 7 Universitas Respati Yogyakarta, jurusan Gizi Kesehatan. Percakapan mulai mengalir ketika kami bercerita tentang kegiatan kampus. Perihal UKM, sistem pembayaran uang kuliah, dan mata kuliah yang sedang dipelajari.
Itu percakapan pada separuh perjalanan pertama, selanjutnya paling-paling terlelap dan sesekali menguping pembicaraan orang di seberang lorong. Saya terbangun ketika menjelang magrib dan kereta memasuki wilayah Banyumas. Ada sebidang lahan kosong yang menyajikan senja seperti di bibir pantai. Dan matahari keemasaan terpantul  dari permukaan air yang tenang. Sayangnya, saya tak mengabadikan dengan tepat.

Sabtu, 06 Agustus 2016

Berawal dari Titik Sederhana

Konsep pameran lingkaran polos oleh Laksmayshita K.L.C
Masih di awal bulan Agustus ini, saya belum dapat buku saku agenda pameran BBY (Bentara Budaya Yogyakarta). Biasanya untuk mengadakan pameran di sana, penyelenggara harus memasukkan proposal sejak satu tahun sebelum hari H. Lumayan lama. Menurut pegawai yang mengurusi BBY, hal tersebut untuk mempermudah menentukan timeline kegiatan satu tahun yang akan datang. Biar tidak bertubrukan. Sudah dua tahun saya menetap di Yogyakarta, sesekali pulang ke Mojokerto ketika liburan semester dan jika ada beberapa hal mendesak yang harus segera diurus. Paling tidak, saya datang barang sekali dua kali dalam satu bulan ke BBY.
Dengan keberadaan BBY, saya merasa diuntungkan dengan ketemu orang-orang baru. Melegakan pikiran yang sedang jenuh. Saya paling suka dengan pameran lukisan. Meskipun tidak terlalu paham dengan jenis cat ataupun aliran lukisan, namun ada sesuatu yang membuat saya terpaku di hadapan lukisan. Membiarkan pikiran yang menebak- nebak secara serampangan makna cat yang digoreskan di media lukis. Kemudian tebakan yang serampangan itu dibuntuti obrolan singkat dengan para perupa atau pemilik komunitas yang mengadakan pameran disana.
Pada (3/8), saya iseng mengunjungi BBY lagi. Hanya menebak saja bakalan ada pameran di sana. Setelah mematikan mesin kendaraan, saya sempat mengedarkan pandangan ke arah pintu masuk gedung BBY. Banyak orang, saya kira usianya tak jauh beda dengan usia saya bergerombol disana. Tidak lama, saya masuk ke dalam ruangan. Masih tersisa LCD, proyektor dan sekitar 50 kursi lipat memenuhi ruangan. Rupanya, sekaligus diadakan workshop. Ternyata ada dua kegiatan berbeda. Orang-orang yang bergerombol tadi mengikuti semacam acara paduan suara. Entah untuk apa, saya tak begitu memperhatikan keterangan yang terdapat dalam lembar presensi. Disela pegawai BBY yang sedang mengemasi barang-barang tadi, saya mulai mengitari tiap sisi tembok yang penuh dengan karya. Ada sekitar 60 karya, kalau saya tidak salah hitung dari 16 seniman kolaborasi komunitas “Perspektif” Yogyakarta- “Tutti” Australia.  
Dinding yang pertama saya tatap tertempel 16 wajah senimannya. Beberapa diantaranya bisa diidentifikasi sebagai anak-anak berkebutuhan khusus (difabel).
Tidak ada yang mewah untuk media lukisan kali ini. Bermodal karton, kertas kalender, tutup botol, biji buah saga, kancing baju, bawang herbarium, perca, dan barang bekas diolah menjadi seni berbasis titik. Pola yang dibuat amat sederhana. Berawal dari titik menjadi sebidang lingkaran beragam warna. Ada satu sisi dinding ruang pameran yang 2/5 bagiannya dipenuhi lingkaran berdiameter 15 cm berwarna putih agak kebiruan. Polos. Awalnya saya pikir adalah gambaran gelembung air, hingga saya mendapat kejelasan maknanya setelah berbincang dengan ibu Nining, ketua komunitas “perspektif” yang selama dua tahun telah menampung 7 anak difabel untuk mengembangkan seni. Ternyata lingkaran-lingkaran yang saya anggap gambaran gelembung air adalah  gambaran dunia yang sepi oleh salah satu seniman yang yang mengalami difabel tuli (deaf ).
“ Mama, bisa mendengar? Adik bisa mendengar, mengapa hanya kakak yang tidak bisa mendengar?” kira-kira begitu kalimat yang terlontar dari salah satu seniman di komunitas ibu Nining ketika akan membangun kepercayaan dirinya untuk berkembang dan terus berkarya.
“ Karena kami sayang kakak,” jawab bu Nining. Kemudian semuanya hening. Tak ada pertanyaan yang terlontar lagi.
Namun, saya masih menangkap getaran suara dan lelehan air di sudut mata  ketika bu Nining menuturkan kembali percakapan tersebut ke saya.
Lukisan sederhana, pola sederhana, percakapan sederhana seolah menggedor jiwa. Mengapa berpikir terlalu rumit namun tak dapat dijangkau, sedangkan yang sederhana saja dapat menghanyutkan perasaan? Dibalik apresiasi karya seni mereka, ada proses panjang yang mereka titi hingga detik ini. Tentang paradigma masyarakat yang keliru melihat difabel, membuat mereka terasing dari lingkungannya. Padahal, kita sama-sama manusia punya kesempatan yang sama untuk mengekspresikan rasa. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk membangun kepercayaan diri. Rasa-rasanya, semua manusia butuh pengakuan, menunjukkan bahwa keberadaannya nyata di dunia. Maka itulah manusia perlu punya karya. Perwujudan hasil pemikiran seperti yang digaungkan Rene Descartes “cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Bahkan tokoh se-imajiner dan hawa keberadaan yang se-tipis Kuroko Tetsuya dalam anime Kurobas (Kuroko no Basuke) pun masih bisa dikenali. Masih bisa diapresiasi lewat permainan basketnya.

Begitulah cerita saya bertemu dengan orang baru, ada percakapan sore hari yang cukup berkesan hari itu. Yang sempat saya tangkap di akhir perbincangan adalah, kadang perlu menanggalkan “ke-Aku-an” agar dapat berbaur dengan siapa saja dan bisa lebih dekat dengan mereka. 
Begitulah. Selamat sore, selamat menikmati akhir pekan.

Senin, 18 Juli 2016

"Pulang" dan Seiris Memori Kolektif



Derit roda kereta api yang bergesekan dengan rel menggedor gendang telinga saya yang sedang berada di ruang tunggu stasiun Mojokerto. Saya sampai di stasiun setengah jam lebih awal dari jadwal keberangkatan yang telah tertera dalam tiket, pukul 09.32 WIB. Maka, seperempat jam pertama saya mengaduk kantong tas untuk memastikan kunci kamar kost dan motor tidak tertinggal di rumah. Ya, hari itu tepatnya 15 Juli saya kembali ke Yogyakarta. Saya harus mengecek barang bawaan saya sekali lagi. Aman. Baru saya bisa bernapas lega. Sebuah buku saya keluaran untuk menemani perjalanan selama 4,5 jam kemudian. Novel Ahmad Tohari, berjudul Orang-orang Proyek yang tidak terlampau tebal sudah berada di genggaman saya.
Kereta api Sancaka datang 3 menit dari jadwal yang telah ditetapkan. Saya masuk di gerbong keempat, dekat dengan gerbong restoran. Aroma acar dan ayam goreng menguar ketika saya mulai mencari deretan tempat duduk. 6D, begitu yang tertera dalam tiket saya, harusnya saya duduk di dekat jendela. Namun, yang saya dapati ada mbak yang duduk di tempat yang seharusnya saya tempati. Tidak menjadi masalah memang, namun agak mengganjal. Saya ingin duduk di dekat jendela, dan kebetulan tiket saya mendukung hal tersebut. Tapi, kenyataannya tidak berjalan dengan baik. Tak apalah. Saya mulai sibuk menekuri kalimat dalam novel, setelah sebelumnya melempar senyum pada ‘teman seperjalanan’ saya itu. Di sela baca, saya sempat melirik tempat duduk sebelah kanan, mbaknya masih sibuk dengan gawainya. Saya berusaha membuka percakapan dengannya dengan menanyakan tujuan pemberhentiannya. Dia hanya menjawab sampai Madiun. Untung tidak terlampau jauh, saya membatin. Kalau sampai Yogyakarta, bisa menggeliat bosan saya. Atau sibuk menulikan telinga dengan  menyumpal mereka menggunakan earphone. Tapi itu tak saya lakukan. Menyiksa diri sendiri. Tidak baik. Akhirnya, tidur adalah pilihan alternatif yang saya pilih. Cuap orang-orang, gema anak-anak yang berlarian di lorong kereta mengantar saya memasuki alam bawah sadar dengan masih mendekap novel Orang-orang Proyek.
Mendekati stasiun Nganjuk, saya geragapan terbangun karena pemberitahuan dari pengeras suara. Tak banyak yang saya lakukan di kereta api kecuali mulai membaca novel kembali. Pada 78 halaman awal novel tersebut, saya diajak nostalgia dengan suasana desa yang rupanya sudah dekat dengan wilayah administrasi kota. Pesona sebuah desa yang dialiri oleh sungai Cibawor (saya gak tahu persis letak sungai Cibawor itu) dideskripsikan cukup jelas. Sungai yang mengalir jernih, berbagai jenis ikan yang ikut berenang dalam aliran sungai tersebut, serta sebuah proyek maha penting: pembangunan jembatan. Saya jadi teringat dengan matakuliah Historiografi Umum yang telah usai semester lalu. Lain waktu, saya bakalan cerita tentang hubungan jembatan dan Historiografi itu.
Baik, kembali ke proyek yang diceritakan oleh Tohari. Ia menceritakan kecurangan-kecurangan beserta polemik lain yang melingkupi orang-orang yang terlibat dalam proyek pembangunan sebuah jembatan di atas sungai Cibawor. Persis dengan cerita bapak, ketika saya mulai memasuki SD pada 2002. Usia bapak tak beda jauh dengan Ahmad Tohari, hanya terpaut beberapa bulan saja, dan masa awal masuk SD bertepatan dengan terbitnya novel Orang-orang Proyek. Saya sempat berandai-andai, bapak menuliskan pengalamannya menjadi sebuah novel dan bersaing dengan karya Ahmad Tohari. Haha. Sewaktu kelas dua SD, sempat saya melontarkan pertanyaan mengapa bapak tidak menjadi PNS saja? Polisi atau profesi lainnya yang memilki penghasilan tetap? Bapak menjawab dengan wegah, menurutnya orang-orang yang memiliki akses terhadap uang rakyat akan berpotensi lebih untuk menggunakan uang titipan tersebut. Bukan digunakan untuk hal yang seharusnya, melainkan memakmurkan kepentingan salah satu pihak saja. Kemudian cara-cara curang dengan mengurangi kualitas barang, melambungkan anggaran, dan mengurangi hal-hal lain menjadi hal yang wajar dilakukan.
Sempat saya ingat, bapak selalu menggerutu panjang pendek ketika kami melewati jalan desa yang rusak parah, bertambal sulam, bahkan tak jarang dibiarkan menganga. Kami sering menjumpai kondisi jalan seperti itu di Kalicangkring, ketika berburu burung perkutut pada seorang peternak. Dusun Kalicangkring berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kecamatan Bangsal. Saya tak paham dan tidak mengerti mengapa bapak menggerutu sepanjang jalan. Karena saya lebih memilh tolah-toleh  melihat tanaman yang mirip pandan, berjajar sepanjang sungai yang dibentengi oleh rumpun bambu Jawa. Atau ketika mulai memasuki perkampungan, saya akan sibuk mengagumi tumpukan batu-bata atau genteng yang sedang mengalami proses pembakaran. Tak lupa membaui aroma kayu petai, randu, campur sekam yang mulai mengikis kadar air tanah liat. Juga sibuk dengan mulut yang penuh dengan berbagai gorengan. Aroma pembakaran tanah liat yang berbaur dengan aroma gorengan, embun, dan kopi yang dipesan bapak di warung dekat sawah merupakan kombinasi aroma yang dahsyat dalam ingatan saya, empat belas tahun silam. Biasanya bapak akan berhenti menggerutu ketika mulai menyuap gorengan ke mulutnya.
Setelah perut kenyang, sembari menunggu bapak yang menghabiskan seduhan kopinya, saya menghitung truk colt diesel  yang lalu-lalang di jalan depan warung. Tak jauh dari lokasi warung, terdapat portal yang terbuat dari bambu dengan pemberat di salah satu sisinya. Umumnya colt  yang lewat bukan jenis baru, cat yang terdapat pada kayu penghalang tiap sisinya mengelupas dan deru mesinnya terdengar seperti erangan tertahan. Sambil terus memperhatikan jalan yang selebar 2 meter yang penuh lubang dan undakan, tak sengaja saya ikut memperhatikan debu yang berhamburan membuntuti ekor colt  itu. Warnanya sedikit merah, bukan hitam, maupun abu-abu halus. Saya baru menyadari sumber deru mesin yang tertahan itu berasal dari colt yang mengangkut batu-bata ataupun genteng ke toko bahan bangunan yang lokasinya dekat dengan jalan protokol.
Mungkin saat itu saya tidak mengerti apa itu tekanan permukaan jalan, beban maksimum kendaraan, atau kapasitas jalan. Namun sederhana saja, aspal di jalan selebar 2 meter dan sepanjang 3 kilometer itu khatam ditempa tubuh truk yang membawa muatan batu-bata. Setiap hari pula, dan tidak hanya satu atau dua truk yang melintas. Ada hampir sepuluh truk dengan beban muatan yang sama. Barangkali itulah yang membuat bapak menggerutu tentang jalan yang berlubang, kualitas aspal, dan debu-debu yang membuntuti ekor kendaraan kami.
Kegiatan baca saya terhenti di stasiun Madiun. Saya beringsut menuju kursi di dekat jendela yang harusnya menjadi jatah saya sejak dua jam sebelumnya. Seorang ibu yang usianya sekitar 50 tahun menempati kursi yang saya tinggalkan barusan. Saya ingin mengatupkan mata, mengistirahatkannya dari paparan warna kertas putih kecoklatan dengan melihat bentang sawah yang hijau. Namun rupanya niatan saya batal, karena mulut saya lancang mengeluarkan suara,         “Ibu akan turun di mana?” pada penumpang baru itu.

Jadi, dua jam selanjutnya saya pasang telinga untuk menjadi pendengar yang baik. 

Pesan dari Jakarta

Perjalanan menuju gedung ANRI Dalam rangka kuliah lapangan, kami sekelas bersepakat mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI...