Kamis, 20 April 2017

Belajar Menjadi Vegetarian



James Sutton/Unsplash




Saatnya Bercerita yang Bukan Tentang Saya

Sudah lama absen menulis yang sedikit bermutu selain berisi ragam gerutuan, kali ini saya mau bercerita tentang seorang teman saya yang mulai belajar menjadi seorang vegetarian.

Siang kemarin hujan rubah, salah seorang teman menyebutnya begitu. Mendefinisikan gerimis berpadu dengan hangatnya cahaya matahari yang bersumber dari mitos. Saya bertemu dengannya lagi di tengah percakapan yang sunyi.

Di antara rinai hujan, saya merobek sampul plastik  buku dan mulai membaca isinya. Sebuah kumpulan esai kebudayaan dari Myra Sidharta, seorang Cina peranakan dengan latar belakang pendidikan psikologi. Bagian pengantarnya sukses membuat jatuh hati dengan gaya kepenulisan dan pemilihan diksinya. Seorang teman, sebut saja Neon, yang kenyang dengan gerutuan saya selama satu semester minta ditemani ke pameran buku di Bentara Budaya. Entah telah menghirup udara dari mana, sehingga ia rela mengalokasikan dana makan menjadi dana untuk berbelanja buku kali ini.

Kamis, 16 Februari 2017

Sembilan Jam Sebelum Pulang



Sebagian potret gunung Penanggungan dan persiapan lahan sawah pasca panen

Saya mau melanjutkan cerita sisa liburan semester ganjil lalu.

Riak-riak air turut membawa beberapa daun bambu yang gugur di atas kali Kromong. Aliran sungai berwarna coklat tua, nampak seperti susu coklat yang siap ditenggak ketika saya mulai memasuki wilayah Padi.  Aroma embun pegunungan, cemara angin, bawang senthir yang dicuci di sungai bercampur jadi satu di udara.  Saya tak tahu di mana sumber mata air utama sungai ini, mungkin ada di sekitar tubuh gunung Penanggungan. Saya menuju Sajen, sebuah desa di kecamatan Pacet, hanya 30 menit perjalanan menggunakan motor dari kediaman saya. Amat berbeda ketika saya diajak “naik” belasan tahun yang lalu. Jalanan yang sempit dan terjal mugkin menjadi salah satu mengapa perjalanan saya bersama bapak kala itu cukup lama. Sekarang jalan akses ke Pacet dan wisata yang ada “di atas” telah diperlebar.
Pada (9/01), saya menggunakan kesempatan hari terakhir saya di kampung halaman dengan main ke Pacet. Sendirian, dengan membawa ransel berisi barang dan buku, pasokan liburan di rumah selama 2 minggu. Padahal sudah pamit kembali ke Yogyakarta pada pagi itu. *Tolong jangan ditiru*. Saya sempat mampir ke rumah saudara. dulunya kami *saya dan saudara sepupu sering berkumpul di sana, hanya sekadar main. Tempat pertama kalinya saya merasa punya teman sepermainan yang bisa dirindukan, sebab jaraknya 30 KM dari rumah. Tempat pertama kali saya naik sepeda kemudian nyusruk di halaman masjid dan diobati dengan tumbukan daun pete, sampai rumah saya dimarah-marahi karena dikira nyusruk di jalan raya. Juga tempat saya kejedot batu, ketika balapan renang di kali Kromong. Namun kali itu saya tidak akan mengulangi keseruan pengalaman masa kecil. Saya hanya duduk manis, sambil mengobrol menanyakan kabar keluarga, sedikir bercerita tentang perkembangan belajar di Yogyakarta, dan seperti masa-masa sebelumnya, saya pamit untuk bermain dengan air sungai yang bening.

Sabtu, 07 Januari 2017

Ada Sedikit Jalan yang Berbeda


Selamat ganti angka tahun! Ternyata, waktu selama 366 hari itu tidak terlalu cepat, namun juga tidak terlalu lama untuk mengerjakan berbagai hal. Selama tujuh hari, belum banyak yang saya lakukan yang juga bertepatan dengan hari libur ini. Hanya sesekali main ke pusat kota, mengurusi surat kendaraan bermotor sebelum tarifnya naik tempo hari, dan bermain di sawah. Khusus untuk bermain di sawah, sistem tanam di sekitar desa saya sedikit berubah. Biasanya, pemilik sawah memperkerjakan beberapa orang untuk mencabut benih padi berusia 17 hari pasca penyemaian, kemudian dibundeli dan disebar untuk ditanam. Namun saat ini, 2 kali dalam satu tahun pemilik lahan lebih cenderung menggunakan mesin tanam untuk mengurangi jumlah pekerjanya. Saya belum bisa membuktikan apakah nantinya akan berpengaruh terhadap berat hasil panen.
Hari ini saya cukup ternutrisi dengan saran membuat Bullet Journal, dan membaca beberapa artikel. Sore tadi, saya pergi nostalgia dengan ‘mantan rangers’ a.k.a babe. Tidak jauh, hanya ke tetangga kecamatan yang terpaut jarak sekitar 8 KM dari rumah. Nama dusunnya adalah Kaligoro dan Kalicangkring, masuk dalam kecamatan Kutorejo. Di sana merupakan pusat pembuatan batu bata. Iseng kami mengunjungi tempat itu, sambil mendengarkan cerita para pengerajin batu bata. Aroma kayu yang membakar tanah liat menguar di udara sepanjang saya melewati daerah sana. Tetap sama, saya pernah menceritakan di tulisan ini. Awalnya saya pikir saya dapat mengenali gang dusunnya. Namun, saya, yang kebetulan membonceng kebablas sampai 1,5 KM. Sebab, jalanan yang kami lewati sudah berubah dari aspal menjadi jalan beton.
Sudah dua bulan katanya jalanan diubah menjadi beton. Pemerintah kabupaten dan kota memang sedang getol melakukan pembenahan jalan raya. Tidak ada lagi jalan berlubang yang dulu sering menebar debu berwarna merah. Namun, jalanan yang sudah dibenahi tersebut menimbulkan keresahan baru. beberapa kali terjadi kecelakaan karena jalanan bisa dibuat ngebut. Oiya, untuk tatanan rumah, tidak banyak berubah kok, termasuk dengan warung tempat saya dulu kerap berhenti untuk menikmati gorengan dan menghitungi colt diesel.


Pesan dari Jakarta

Perjalanan menuju gedung ANRI Dalam rangka kuliah lapangan, kami sekelas bersepakat mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI...