Kamis, 11 Mei 2017

Pesan dari Jakarta

Perjalanan menuju gedung ANRI
Dalam rangka kuliah lapangan, kami sekelas bersepakat mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 9-10 Mei. Tentu saja kami harus menyiapkan segala bahan untuk berburu bahan bakar bagi proposal penelitian dan calon skripsi kami. Baik pakaian yang akan di bawa, bahan logistik dan daftar data yang akan dicari. Pada (09-05), kurang lebih menjelang pukul 10.00 kami baru memasuki di wilayah Jakarta Selatan. Gedung tingi menyambut kami yang berada di dalam bis batman, bukan pemandangan yang asing sebenarnya. Namun, apa yang saya lihat saat itu adalah pembangunan infrastruktur di berbagai sisi.
Jakarta sudah menerapkan teknologi hunian dan tata kota vertikal seperti apa yang diproyeksikan oleh orang-orang yang berkutat dengan statistik. Jalan layang, hunian, taman sudah mulai ditata sedemikian rupa. Tentunya untuk sedikit menghambat pembangunan jalan raya, kemudian disediakan transportasi masal berupa Transjakarta (Tj). Mantan plt gubernur Jakarta yang sekarang terdakwa kasus penistaan agama, pernah menganggarkan dana untuk pembelian armada Tj menjadi 3,2 triliun pada 2017 ini. uang sebanyak itu juga akan digunakan untuk menambah tetek-bengeknya, termasuk halte dan penambahan rute. Entah, Jakarta akan berhenti sumpek pada tahun berapa. Kenyataannya, kemarin bus kami terjebak kemacetan yang katanya di luar jam kerja.
Bicara tentang kemacetan Jakarta, jalur Transjakarta yang diterabas, tentunya tak akan pernah habis. Maka, kami amat bersyukur ketika tiba di ANRI dengan selamat pada pukul 11.00. karena sudah teramat siang sampai di tujuan, kami disambut ala kadarnya. Hal tersebut juga menyesuaikan dengan jam layanan yang berlaku di sana (08.00-12.00), kemudian dilanjut (13.00-16.00). Ada dua teman kami yang tiba terlebih dahulu, yaitu Caca dan Inu. Pada mulanya saya tak menyadari kehadiran Inu, karena dia tidak berkabar sebelumnya.
Ada beberapa jenis arsip yang tersedia, dari periode VOC hingga republik. Arsip-arsip tersebut berbentu kertas kolonial, kartografi, mikrofilm, juga berbentuk foto. Namun, sebelum mencari bahan baku tersebut, kami harus mencari jenis arsip yang diinginkan melalui katalog. Pencariannya memakan waktu yang lumayan banyak. Berbeda dengan arsip masa republik yang dapat ditelusuri dengan katalog online, masa kolonial harus dicari secara manual melalui buku inventaris dan guide berdasarkan kementrian yang menaungi, maupun berdasarkan wilayah cakupan. Penelitian saya tentang industri hilir dari pabrik gula yang ada di Jawa Timur, maka saya harus mencari katalog wilayah Surabaya, algemeene secretarie, dan beberapa foto. Arsip perihal pembangunan suikerfabriek  atau spiritus tidak saya temukan. Mungkin waktu itu saya yang kurang telaten untuk mencarinya dengan kosakata lain. Begitu pula dengan asip foto, saya meminta 5 arsip foto. Satu tentang tumpukan ampas tebu di halama Sf. Gempolkrep, tiga foto udara komplek industri di Gudo, Pasuruan dan Surabaya. Dan dua foto udara pabrik minuman keras “Heinekens Nederland Brouwerij” dan Pabrik Nederland Indische produsen Bir Jawa di Surabaya. Baru saya ketahui, bahwa Heinekens adalah cikal bakal dari bir Bintang yang namanya sudah kondang di Jawa, bahkan dekat dengan kehidupan salah seorang teman saya.

Kamis, 20 April 2017

Belajar Menjadi Vegetarian



James Sutton/Unsplash




Saatnya Bercerita yang Bukan Tentang Saya

Sudah lama absen menulis yang sedikit bermutu selain berisi ragam gerutuan, kali ini saya mau bercerita tentang seorang teman saya yang mulai belajar menjadi seorang vegetarian.

Siang kemarin hujan rubah, salah seorang teman menyebutnya begitu. Mendefinisikan gerimis berpadu dengan hangatnya cahaya matahari yang bersumber dari mitos. Saya bertemu dengannya lagi di tengah percakapan yang sunyi.

Di antara rinai hujan, saya merobek sampul plastik  buku dan mulai membaca isinya. Sebuah kumpulan esai kebudayaan dari Myra Sidharta, seorang Cina peranakan dengan latar belakang pendidikan psikologi. Bagian pengantarnya sukses membuat jatuh hati dengan gaya kepenulisan dan pemilihan diksinya. Seorang teman, sebut saja Neon, yang kenyang dengan gerutuan saya selama satu semester minta ditemani ke pameran buku di Bentara Budaya. Entah telah menghirup udara dari mana, sehingga ia rela mengalokasikan dana makan menjadi dana untuk berbelanja buku kali ini.

Kamis, 16 Februari 2017

Sembilan Jam Sebelum Pulang



Sebagian potret gunung Penanggungan dan persiapan lahan sawah pasca panen

Saya mau melanjutkan cerita sisa liburan semester ganjil lalu.

Riak-riak air turut membawa beberapa daun bambu yang gugur di atas kali Kromong. Aliran sungai berwarna coklat tua, nampak seperti susu coklat yang siap ditenggak ketika saya mulai memasuki wilayah Padi.  Aroma embun pegunungan, cemara angin, bawang senthir yang dicuci di sungai bercampur jadi satu di udara.  Saya tak tahu di mana sumber mata air utama sungai ini, mungkin ada di sekitar tubuh gunung Penanggungan. Saya menuju Sajen, sebuah desa di kecamatan Pacet, hanya 30 menit perjalanan menggunakan motor dari kediaman saya. Amat berbeda ketika saya diajak “naik” belasan tahun yang lalu. Jalanan yang sempit dan terjal mugkin menjadi salah satu mengapa perjalanan saya bersama bapak kala itu cukup lama. Sekarang jalan akses ke Pacet dan wisata yang ada “di atas” telah diperlebar.
Pada (9/01), saya menggunakan kesempatan hari terakhir saya di kampung halaman dengan main ke Pacet. Sendirian, dengan membawa ransel berisi barang dan buku, pasokan liburan di rumah selama 2 minggu. Padahal sudah pamit kembali ke Yogyakarta pada pagi itu. *Tolong jangan ditiru*. Saya sempat mampir ke rumah saudara. dulunya kami *saya dan saudara sepupu sering berkumpul di sana, hanya sekadar main. Tempat pertama kalinya saya merasa punya teman sepermainan yang bisa dirindukan, sebab jaraknya 30 KM dari rumah. Tempat pertama kali saya naik sepeda kemudian nyusruk di halaman masjid dan diobati dengan tumbukan daun pete, sampai rumah saya dimarah-marahi karena dikira nyusruk di jalan raya. Juga tempat saya kejedot batu, ketika balapan renang di kali Kromong. Namun kali itu saya tidak akan mengulangi keseruan pengalaman masa kecil. Saya hanya duduk manis, sambil mengobrol menanyakan kabar keluarga, sedikir bercerita tentang perkembangan belajar di Yogyakarta, dan seperti masa-masa sebelumnya, saya pamit untuk bermain dengan air sungai yang bening.

Sabtu, 07 Januari 2017

Ada Sedikit Jalan yang Berbeda


Selamat ganti angka tahun! Ternyata, waktu selama 366 hari itu tidak terlalu cepat, namun juga tidak terlalu lama untuk mengerjakan berbagai hal. Selama tujuh hari, belum banyak yang saya lakukan yang juga bertepatan dengan hari libur ini. Hanya sesekali main ke pusat kota, mengurusi surat kendaraan bermotor sebelum tarifnya naik tempo hari, dan bermain di sawah. Khusus untuk bermain di sawah, sistem tanam di sekitar desa saya sedikit berubah. Biasanya, pemilik sawah memperkerjakan beberapa orang untuk mencabut benih padi berusia 17 hari pasca penyemaian, kemudian dibundeli dan disebar untuk ditanam. Namun saat ini, 2 kali dalam satu tahun pemilik lahan lebih cenderung menggunakan mesin tanam untuk mengurangi jumlah pekerjanya. Saya belum bisa membuktikan apakah nantinya akan berpengaruh terhadap berat hasil panen.
Hari ini saya cukup ternutrisi dengan saran membuat Bullet Journal, dan membaca beberapa artikel. Sore tadi, saya pergi nostalgia dengan ‘mantan rangers’ a.k.a babe. Tidak jauh, hanya ke tetangga kecamatan yang terpaut jarak sekitar 8 KM dari rumah. Nama dusunnya adalah Kaligoro dan Kalicangkring, masuk dalam kecamatan Kutorejo. Di sana merupakan pusat pembuatan batu bata. Iseng kami mengunjungi tempat itu, sambil mendengarkan cerita para pengerajin batu bata. Aroma kayu yang membakar tanah liat menguar di udara sepanjang saya melewati daerah sana. Tetap sama, saya pernah menceritakan di tulisan ini. Awalnya saya pikir saya dapat mengenali gang dusunnya. Namun, saya, yang kebetulan membonceng kebablas sampai 1,5 KM. Sebab, jalanan yang kami lewati sudah berubah dari aspal menjadi jalan beton.
Sudah dua bulan katanya jalanan diubah menjadi beton. Pemerintah kabupaten dan kota memang sedang getol melakukan pembenahan jalan raya. Tidak ada lagi jalan berlubang yang dulu sering menebar debu berwarna merah. Namun, jalanan yang sudah dibenahi tersebut menimbulkan keresahan baru. beberapa kali terjadi kecelakaan karena jalanan bisa dibuat ngebut. Oiya, untuk tatanan rumah, tidak banyak berubah kok, termasuk dengan warung tempat saya dulu kerap berhenti untuk menikmati gorengan dan menghitungi colt diesel.


Selasa, 29 November 2016

Nge-Random ke Solo Lagi


Kali ini saya tidak melakukan perjalanan sendiri. Tidak seperti pengalaman seminggu sebelumnya. Tujuannya ke Solo, nama daerah tersebut muncul begitu saja selepas makan siang yang merapel sarapan. Tak ada waktu untuk mencari destinasi wisata, atau tempat yang akan dikunjungi, atau mencicip makanan khas di sana. Persiapannya hanya setengah jam, termasuk mandi dan menjemput rekan. Tetapi terpaksa balik kost karena surat kendaraan sempat  tertinggal.
Pukul setengah duabelas kami berangkat. Matahari sedang terik-teriknya ketika kami meninggalkan Yogyakarta, melintasi Klaten, Sukoharjo dan berakhir di Solo. Sesekali menerabas lampu merah yang bikin saya ingin misuh-misuh. Sepanjang jalan membicarakan beberapa hal, termasuk bedanya angkringan, hik, dan wedangan. Itu gara-gara pertanyaan receh “di Klaten ada yang jualan nasi kucing gak ya? Atau, kenapa nama makanan khas suatu daerah harus punya identitas ketika berada di luar daerah asalnya? Mie Aceh, atau nasi Padang misalnya,” kurang lebih begitu pertanyaan yang saya layangkan. Sebab, dari beberapa artikel yang saya baca, nasi kucing berasal dari daerah Cawas. Desa kecil di ujung selatan kabupaten Klaten yang berbatasan dengan wilayah Gunung Kidul. Kata rekan saya, nama yang berbeda tersebut tergantung pada tempat dan cara menikmatinya yang berbeda. Di Solo disebut Hidangan Istimewa... (HIK). Namun, saya belum dapat kepastian tentang kepanjangan huruf K nya. Dijajakan dengan berkeliling di sekitar keraton Solo dengan pedagangnya yang membawa dingklik (kursi kecil). Berbeda dengan cara penyajian di Yogyakarta, pembeli menikmati nasi kucing dengan ngangkring (nangkring di atas kursi).
Masuk wilayah Solo, kami hanya mengandalkan papan petunjuk jalan. Pasar Klewer yang jadi tujuan pertama. Pasar sementara berada di alun-alun utara keraton Mangkunegara, sebab pasar Klewer mengalami kebakaran dan sedang dalam masa renovasi. Lagi, perang crane di angkasa. Kami tak mendapati apa-apa selain penjual kain dan baju. Mirip seperti lapak di pasar Beringarjo. Beberapa lapak menempati pendopo keraton yang dibangun oleh Pakubuwono ke XII kalau tak salah. Tak jauh dari pasar sementara, terdapat masjid Ageng Keraton Surakarta Hadiningrat. Masjid bergaya joglo itu terkesan lebih sederhana dibandingkan dengan masjid Agung Keraton Yogyakarta. Namun yang paling terlihat mencolok adala identitas masa pembuat bangunan. Mungkin sebagai alat legitimasi kekuasaan. Menunjukkan bahwa perekonomiannya maju dan digunakan untuk pembangunan. Kira-kira begitu.
Kemudian kami berniat mengunjungi Keraton Mangkunegara yang kini sudah menjadi museum, tidak sempat masuk ke dalam ruangannya. Karena sudah hampir tutup, kami hanya lewat sepanjang luar tembok pembatas. Sampai menuju alun-alun kidul yang menjadi tempat berkubang para kerbau bule. Selepas dari area keraton, kami sudah tak tahu arah. Palang menunjukkan ke arah Solo baru, dan kami gak tahu bakalan menemukan apa-apa di sana. Putar balik ke arah keraton lagi, mencicip es dawet yang isinya macam-macam. Amat berbeda dengan es dawet yang sering dijumpai di Jawa Timur yang berisi dawet, santan aroma pandan, dan gula merah. Sebenarnya baru kepikiran akan mampir ke Taman Sriwedari untuk melihat pertunjukan atau semacam pameran. Sayangnya kami tidak menemukan jalan kembali ke sana.

Sudah sore, dan mendung mulai berarak. Banyak petugas parkir yang menggunakan lurik. Identitas rupanya. Pulang, kami terjebak guyuran hujan di Sukoharjo. Musim hujan kali ini juga diikuti angin ribut. Beberapa pohon tumbang, dan ruas jalan penuh dengan genangan air hujan. 

Rabu, 23 November 2016

Pulang Ke Yogyakarta

masih ada semacam hutang untuk mencicip sanger, ayam tangkap, mie caluk, roti samahani, dan kuliner lain yang diolah di peruhan dengan penduduk yang ramah.

Yogyakarta ibarat rumah kedua bagi saya, daya tawar bagi kerinduan-kerinduan yang membuncah. Mau tak mau tempat ini menjadi  sarang untuk mengenyam pendidikan  1,5 tahun kedepan (mungkin). Seminggu menjejakkan tanah rencong membuat saya berpikir tentang pola adaptasi yang cepat. Waktu seminggu lebih banyak diisi dengan keterkejutan bertemu dengan teman-teman baru yang mayoritas berasal dari tanah Sumatera. Gaya bicara yang cepat, bahasa Indonesia dengan logat daerah membuat saya lemot luar biasa untuk mencerna kata-kata. Di malam pertemuan terakhir, lebih dari separuh teman baru mengatakan bahwa saya amat pendiam. Sampai ada yang khusus bertatap muka untuk mengatakan “mari kita berbicara.”
Ini semacam pembelaan. Bukankah akan lebih baik ketika memasang telinga dan menjadi pendengar yang baik di tempat baru? Menjadi sepotong spons untuk menyerap banyak informasi. Waktu seminggu menjadi amat singkat untuk belajar kultur masyarakat Banda Aceh. Terlampau singkat memang, sehingga tak perlu banyak yang dikatakan. Jika disuruh berbicara tentang keindahannya, paling tidak saya masih ada beberapa kalimat untuk mendefinisikannya selepas musibah tsunami sebelas tahun silam.

Selasa, 15 November 2016

Menjejak Tanah Serambi Mekah #2

koridor bandara Kualanamu-Medan

Deru mesin pesawat tinggal landas bak hujan yang bergemuruh di gendang telinga. Penerbangan pertama, rasanya seperti berlari kencang sembari merentangkan tangan kemudian melompat menangkap udara yang terkumpul. Melambung, kemudian bergetar sebentar di seluruh badan pesawat. Selebihnya hanyalah khayalan, tentang butiran air yang menggantung di udara, dan seolah transportasi udara ini turut menggantung tanpa melaju. Padahal, kecepatannya melampaui 800 km/jam. Sesekali terasa badan pesawat miring ke kiri  dan sadar bergerak ketika dapat melihat daratan dari ketinggian. Cuaca cerah, ditandai dengan teriknya matahari diatas ketinggian 9215 mdpl. Gendang telinga serasa mengembang, ketika pilot menaikkan ketinggian penerbangan.

Senin, 14 November 2016

Menjejak Tanah Serambi Mekah #1


Persiapan serba terburu-buru. Satu list keinginan, atau mungkin list kebutuhan telah tercapai dengan cara melarikan diri ke luar pulau Jawa selepas semester 4. Pertengahan November harus sudah tiba di Unsyiah-Banda Aceh. Ada ketakutan, ragu, cemas, dan was-was menyeruak menjadi satu. Namun, pejalanan yang mau tak mau serba dadakan tersebut menuai kata harus. Sebuah konsekwensi dari sebuah pilihan. Izin kuliah selam seminggu, padahal jatah bolos sudah habis semenjak kuliah paruh pertama.
Perjalanan panjang ini dimulai pada Sabtu sore (12/11) yang cukup terik dari stasiun Lempuyangan menuju stasiun Pasar Senen. Selama 8 perjalanan darat ini diwarnai dengan percakapan dengan dua penumpang lain. Di sebelah kiri kursi saya adalah seorang bapak yang telah memasuki usia senja, alumnus ITB jurusan Teknik arsitektur, 45 tahun silam. Saya berdecak, agak kagok untuk memulai sebuah percakapan. Dan seseorang lagi yang duduk berseberangan dengan saya adalah mahasiswa semester 7 Universitas Respati Yogyakarta, jurusan Gizi Kesehatan. Percakapan mulai mengalir ketika kami bercerita tentang kegiatan kampus. Perihal UKM, sistem pembayaran uang kuliah, dan mata kuliah yang sedang dipelajari.
Itu percakapan pada separuh perjalanan pertama, selanjutnya paling-paling terlelap dan sesekali menguping pembicaraan orang di seberang lorong. Saya terbangun ketika menjelang magrib dan kereta memasuki wilayah Banyumas. Ada sebidang lahan kosong yang menyajikan senja seperti di bibir pantai. Dan matahari keemasaan terpantul  dari permukaan air yang tenang. Sayangnya, saya tak mengabadikan dengan tepat.

Rabu, 09 November 2016

Rumah yang Seperti Apa?

Saya selalu membayangkan akan merancang hunian pada usia 25 tahun. Letaknya di desa, sebagai ganti keinginan memiliki rumah di puncak bukit pada usia senja. Tak perlu jauh dari keramaian, yang penting tidak bising dan dekat dengan akses pendidikakn untuk anak-anak kelak. Sebab saya lebih menyukai suasana tenang, udara bersih dan aroma akar pohon. Ah, membicarakan tentang rumah akan selalu identik dengan kata pulang, melabuhkan penat, dan menampung segenap rasa. Maka, idealnya rumah perlu dirancang sedemikian rupa. Saat ini, baru mampu menuangkan gambaran yang berseliweran di kepala menjadi kata-kata.
Beberapa kali saya mendatangi museum di kota Yogyakarta yang merupakan rumah pribadi, salah satunya adalah museum Dewantara Kirti Griya. Adalah salah satu bangunan rumah kedua Ki Hadjar Dewantara yang kini digunakan untuk menyimpan beberapa sisa perabotan semasa ia menjadi penggerak Taman Siswa. Saya mulai dari jumlah dan bentuk pintunya. Mayoritas rumah jawa pada abad 20-an memiliki lebih dari 1 pintu utama. Pintu pertama ada di dekat serambi, dan pintu kedua akan berhubungan dengan ruang kumpul yang lebih luas. Di museum Dewantara kemarin, saya menjumpai 3 pintu yang mengantarkan pengunjung untuk menyusuri ruang selanjutnya.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Elegi

Memasuki Oktober, ada semacam kayu penyangga yang mulai lapuk. Keropos dimakan kutu kayu. Kalau sudah begitu pilihannya hanya ada dua, tega memotong beberapa jengkal atau menghitung detik jam menunggu ambruk.

Pada bulan ini segalanya serba kacau. Setandan pisang, sekotak umpatan dan sumpah serapah berhamburan, dan puluhan judul pelarian masih membelenggu kaki. Belum dapat beranjak, terperangkap dalam hening dan putaran kebingungan.

Jenuh. Mencermati diri bahwa hanya melompat-lompat dari kewajiban satu ke kewajiban lain yang tercacah dan tak lekas tuntas. Terjebak rutinitas, meskipun sesekali keluar malam untuk menikmati makan malam dan pertunjukan seni. Saya belum bisa melarikan diri.


Lagu Sementara nya Float melantun sedari pagi, membungkam tumpukan kertas yang kian bisu.

Rabu, 05 Oktober 2016

Mata



unsplash.com [Cristian Newman]


Musim kemarau terlampau cepat pergi pada tahun ini. Setelah September berakhir, rintik hujan kerap datang dan dingin perlahan menyergap lewat tengah malam. Tibalah saya di tengah lorong gelap, penuh karat pada awal Oktober. Kecipak tanah becek akibat kadal yang berkejaran, atau sambungan pipa air yang patah menggema di seluruh ruang. Tak ada siapa-siapa, tak ada seberkas sinar, cahaya lilin atau apapun yang dapat menerangi lorong ini. Kecuali sorot matamu, yang baru saya sadari belakangan ini.

Minggu, 25 September 2016

Saya Ingin Semua Tugas Segera Kelar



https://unsplash.com/collections/188185/paper





...here comes the rain again
falling from the stars
drenched in my pain again...
Judul unggahan yang paling gak masuk akal. Namun saya rasa itu menjadi gambaran apa yang sedang saya rasakan sebulan belakangan. Menjelang akhir September, rupa-rupanya saya menerima banyak kejutan. Baik dari hal yang menyenangkan hingga hal yang bikin geregetan. Sudah hampir tujuh hari berturut-turut hujan datang selepas tengah hari. Hawa dingin kembali menelisip di celah jendela, ventilasi kamar, hingga berani menghampiri serat selimut. Sedangkan di jalan, dekat jembatan, air hujan menggenang laiknya kubangan itik. Hujan tak pernah salah, berkah dari Tuhan di tengah krisis air yang melanda kota Yogyakarta. Masalah kekeringan yang sama mungkin dialami oleh wilayah lain di Indonesia. Namun, sayangnya beberapa kecamatan di kota ini penuh dengan lahan yang telah ditutupi semen, sebagian lagi tanahnya berupa hamparan sawah. Tak ada tanah resapan, sampah yang terbawa arus air hujan tak segan menyumpal aliran air di pinggir jalan. Persis seperti otak saya yang sedang tersumpal sesuatu yang entah apa namanya. Air, elemen yang dekat dan penting bagi kelangsungan hidup manusia. Sampai saat ini saya masih memilih air untuk dijadikan tema tugas akademik, juga sebagai alasan saya ketemu dengan orang baru. Ternyata konsekuensi dari pilihan saya terhadap air membuat kepala saya pening.

Kamis, 11 Agustus 2016

Gadis Kecil dan Le Petit Prince



via europeonscreen


Hallo, apakabar? Semoga senantiasa sehat. Adakah komentar untuk beberapa postingan cerita akhir-akhir ini? Kalau tidak, saya ingin minta maaf saja. Beberapa tulisan agak aneh karena sedang dalam misi perenungan (>0<). Hari ini saya ingin bercerita lagi tentang sebuah film anak-anak.
Finally, belum banyak yang saya lakukan setelah kembali ke Yogyakarta. Sudah hampir sebulan di sini. Dan ketika teman-teman bertanya mengapa balik cepat, atau sudah kemana saja, saya kelimpungan untuk menjawabnya.

Rabu, 10 Agustus 2016

Imam Sepanjang Jalan

Siluet tubuhmu berlatar senja, agar tak dapat kulihat genangan air di sudut mata.

Pagi ini, udara kamar harus berganti, sekaligus iseng  melongokkan kepala dari balik pagar setinggi 2,5 meter. Bendera umbul-umbul telah terpasang sepanjang jalan depan kost. Ya, hari ini memasuki hari ke 10 di bulan Agustus, seminggu yang akan datang akan ada upacara bendera rutin untuk memperingati hari kemerdekaan, meskipun saya lebih suka memakai  istilah peringatan hari proklamasi.  
Sekilas, tidak ada yang spesial hingga siang yang terik ini. Hingga berkali-kali saya harus memastikan benar-benar tak ada yang spesial sambil mematung di depan kalender yang tergantung di tembok kamar. Lama. Namun dalam otak saya terus bergaung percakapan saya dengan seseorang, delapan tahun silam.    
“Ra, wanita harus mengenyam pendidikan yang layak. Harus punya keterampilan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, punya pekerjaan sendiri. Kalau sudah begitu, perihal rezeki dan jodoh tinggal tunjuk saja. namun jangan lupa, usahamu mendekat pada yang punya kehidupan harus kau upayakan sendiri, dan lalalala...” Begitulah kata-kata yang sempat masuk dalam otak dan diingat hingga saat ini, jauh sebelum saya belajar biologi dan gen manusia, serta tahu nama Dian Sastro dan quotenya “ ... Seorang wanita wajib berpendidikan tinggi, karena mereka akan menjadi ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas.”
Dan seketika berkelebat ingatan bukankah orang-orang yang berilmu akan ditinggikan derajadnya oleh Tuhan?
Saya melihat kalender lagi, hingga teman kost jengah melihat saya mematung di hadapan kalender. Ah, tanggal sepuluh, akhirnya ketemu mengapa tanggal ini terasa istimewa. Ya, hari ini hari istimewa. karena lelaki, imam sepanjang jalan saya pernah lahir ke dunia. Selama 2 tahun di tanggal dan bulan yang sama dengan hari ini, saya meninggalkan rumah. Berniat  untuk melarikan diri dari kungkungan sang imam sepanjang jalan. Hari ini rasanya amat berbeda. Ingin pulang, sambil memeluk dan berbicara panjang lebar dalam pelukannya yang sebenarnya tidak terlampau hangat itu. Tidak ada kue ulang tahun, lilin angka petunjuk usia yang menyala. Apalagi tangisan sedu sedan. Sebab, rasa-rasanya kelopak mata saya kering karena kemarin sudah menangis pada waktu yang tidak tepat. Sialan!
Tapi, karena hari ini merupakan hari istimewa untuk imam sepanjang jalan, saya ingin berbahagia saja hari ini. Sambil merenungi himpunan kata-katanya yang tertinggal di otak sekaligus memanggil kembali ingatan yang telah melanglang buana. Saya sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa selama ini usaha saya masih terlalu santai. Masih terlampau terbuai dengan permainan.
Untuk imam sepanjang jalan, ingatannya sudah tidak tajam lagi. Katanya, nikmat pendengarannya dikurangi oleh Tuhan. Maaf, karena perdebatan kita selama ini tak pernah menghasilkan sebuah perenungan panjang yang mengubah arah komunikasi. Alias sia-sia. Sebab, kita terlalu egois untuk mengakui rindu, termasuk mengakui salah. Kalau saya boleh bilang, otak kita terlalu bebal. Entahlah, tapi saya ingin mengamini himpunan kata-katanya yang dulu pernah berlalu.
Terimakasih, imam sepanjang jalan yang menghadiahkan ribuan chip memori dalam otak saya. Termasuk malam ini dengan warna langit yang semakin menua, saya menghaturkan rapalan doa-doa. Dan rapalan semoga dapat segera membumbung ke angkasa. 
 Terimakasih, saya menikmati hari ini.


Sabtu, 06 Agustus 2016

Berawal dari Titik Sederhana

Konsep pameran lingkaran polos oleh Laksmayshita K.L.C
Masih di awal bulan Agustus ini, saya belum dapat buku saku agenda pameran BBY (Bentara Budaya Yogyakarta). Biasanya untuk mengadakan pameran di sana, penyelenggara harus memasukkan proposal sejak satu tahun sebelum hari H. Lumayan lama. Menurut pegawai yang mengurusi BBY, hal tersebut untuk mempermudah menentukan timeline kegiatan satu tahun yang akan datang. Biar tidak bertubrukan. Sudah dua tahun saya menetap di Yogyakarta, sesekali pulang ke Mojokerto ketika liburan semester dan jika ada beberapa hal mendesak yang harus segera diurus. Paling tidak, saya datang barang sekali dua kali dalam satu bulan ke BBY.
Dengan keberadaan BBY, saya merasa diuntungkan dengan ketemu orang-orang baru. Melegakan pikiran yang sedang jenuh. Saya paling suka dengan pameran lukisan. Meskipun tidak terlalu paham dengan jenis cat ataupun aliran lukisan, namun ada sesuatu yang membuat saya terpaku di hadapan lukisan. Membiarkan pikiran yang menebak- nebak secara serampangan makna cat yang digoreskan di media lukis. Kemudian tebakan yang serampangan itu dibuntuti obrolan singkat dengan para perupa atau pemilik komunitas yang mengadakan pameran disana.
Pada (3/8), saya iseng mengunjungi BBY lagi. Hanya menebak saja bakalan ada pameran di sana. Setelah mematikan mesin kendaraan, saya sempat mengedarkan pandangan ke arah pintu masuk gedung BBY. Banyak orang, saya kira usianya tak jauh beda dengan usia saya bergerombol disana. Tidak lama, saya masuk ke dalam ruangan. Masih tersisa LCD, proyektor dan sekitar 50 kursi lipat memenuhi ruangan. Rupanya, sekaligus diadakan workshop. Ternyata ada dua kegiatan berbeda. Orang-orang yang bergerombol tadi mengikuti semacam acara paduan suara. Entah untuk apa, saya tak begitu memperhatikan keterangan yang terdapat dalam lembar presensi. Disela pegawai BBY yang sedang mengemasi barang-barang tadi, saya mulai mengitari tiap sisi tembok yang penuh dengan karya. Ada sekitar 60 karya, kalau saya tidak salah hitung dari 16 seniman kolaborasi komunitas “Perspektif” Yogyakarta- “Tutti” Australia.  
Dinding yang pertama saya tatap tertempel 16 wajah senimannya. Beberapa diantaranya bisa diidentifikasi sebagai anak-anak berkebutuhan khusus (difabel).
Tidak ada yang mewah untuk media lukisan kali ini. Bermodal karton, kertas kalender, tutup botol, biji buah saga, kancing baju, bawang herbarium, perca, dan barang bekas diolah menjadi seni berbasis titik. Pola yang dibuat amat sederhana. Berawal dari titik menjadi sebidang lingkaran beragam warna. Ada satu sisi dinding ruang pameran yang 2/5 bagiannya dipenuhi lingkaran berdiameter 15 cm berwarna putih agak kebiruan. Polos. Awalnya saya pikir adalah gambaran gelembung air, hingga saya mendapat kejelasan maknanya setelah berbincang dengan ibu Nining, ketua komunitas “perspektif” yang selama dua tahun telah menampung 7 anak difabel untuk mengembangkan seni. Ternyata lingkaran-lingkaran yang saya anggap gambaran gelembung air adalah  gambaran dunia yang sepi oleh salah satu seniman yang yang mengalami difabel tuli (deaf ).
“ Mama, bisa mendengar? Adik bisa mendengar, mengapa hanya kakak yang tidak bisa mendengar?” kira-kira begitu kalimat yang terlontar dari salah satu seniman di komunitas ibu Nining ketika akan membangun kepercayaan dirinya untuk berkembang dan terus berkarya.
“ Karena kami sayang kakak,” jawab bu Nining. Kemudian semuanya hening. Tak ada pertanyaan yang terlontar lagi.
Namun, saya masih menangkap getaran suara dan lelehan air di sudut mata  ketika bu Nining menuturkan kembali percakapan tersebut ke saya.
Lukisan sederhana, pola sederhana, percakapan sederhana seolah menggedor jiwa. Mengapa berpikir terlalu rumit namun tak dapat dijangkau, sedangkan yang sederhana saja dapat menghanyutkan perasaan? Dibalik apresiasi karya seni mereka, ada proses panjang yang mereka titi hingga detik ini. Tentang paradigma masyarakat yang keliru melihat difabel, membuat mereka terasing dari lingkungannya. Padahal, kita sama-sama manusia punya kesempatan yang sama untuk mengekspresikan rasa. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk membangun kepercayaan diri. Rasa-rasanya, semua manusia butuh pengakuan, menunjukkan bahwa keberadaannya nyata di dunia. Maka itulah manusia perlu punya karya. Perwujudan hasil pemikiran seperti yang digaungkan Rene Descartes “cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Bahkan tokoh se-imajiner dan hawa keberadaan yang se-tipis Kuroko Tetsuya dalam anime Kurobas (Kuroko no Basuke) pun masih bisa dikenali. Masih bisa diapresiasi lewat permainan basketnya.

Begitulah cerita saya bertemu dengan orang baru, ada percakapan sore hari yang cukup berkesan hari itu. Yang sempat saya tangkap di akhir perbincangan adalah, kadang perlu menanggalkan “ke-Aku-an” agar dapat berbaur dengan siapa saja dan bisa lebih dekat dengan mereka. 
Begitulah. Selamat sore, selamat menikmati akhir pekan.

Jumat, 29 Juli 2016

Pesta Perayaan Atas Kebebasan Diri



via unsplash.com


Berpuluh-puluh jam mengurung diri dalam kamar, tanpa penerangan. Kecuali lewat layar komputer jinjing.
Begitulah cara saya menghabiskan waktu kali ini, karena sebuah jadwal yang ditunda berhari-hari. Diam, kemudian sesekali mencomot  oat yang lembek karena gula. Biasanya, saya kerap ngobrol di depan akuarium yang penghuninya kehilangan tenaga dari hari ke hari. Sekarang akuarium itu teronggok di sudut bufet, berkawan dengan buku-buku baru yang belum terjamah dengan karbon pensil. Tidak banyak yang saya lakukan untuk mengisi keseloan tingkat 27. Tiga hari yang lalu, saya merampok koleksi film seorang teman. Beragam jenisnya, namun mayoritas adalah jenis sains-fiksi, film keluarga, juga laga semacam Sicario, Transcendence, Allegiant, Zootopia, dan Room. Sebenarnya saya merampok lebih banyak dari judul yang saya sebutkan, namun yang paling berkesan adalah film dengan judul Room (kamar).
Berdasarkan percakapan dalam film, usia tokoh utama baru  menginjak angka lima tahun. Mempertanyakan mengapa warna daun yang gugur di atas atap kaca tidak berwarna hijau? Menanyakan mengapa hingga usianya lima tahun belum bisa bertemu dengan anjing yang sering didengung-dengungkan dalam cerita ibunya yang hampir ia hapal di memori otaknya. Namanya Jack, bocah laki-laki yang  hidup dalam imajinasi ibunya di sebuah kamar (lebih baik untuk disebut sebagai sebuah gudang) yang dipaksakan menjadi sebuah rumah. Tempat tidur, makan, dapur, nonton televisi dibagi berdasarkan bayangan imajiner, tanpa sekat.
Ia terkungkung dalam sebuah ruang, tak dapat menikmati pergantian udara tanpa tarif tiap pagi, maupun celoteh teman-teman yang seusia dengannya. Kalau saya boleh lancang mengatakan, itu dikarenakan ia benar-benar terasing dari interaksi dengan manusia selain ibunya, juga sebuah kotak ajaib bernama televisi selama 5 tahun. 
Singkat cerita,  Jack dan ibunya berhasil melarikan diri dari kubikel mininya. Tubuhnya berontak untuk menyesuaikan dengan lingkungan barunya. Sistem pernapasannya harus menyesuaikan diri dengan udara yang dihirup, butuh kacamata berlensa hitam yang digunakan sebagai penghalang paparan sinar matahari menuju rentina. Tak hanya fisiknya saja yang butuh penyesuaian, ia juga butuh penyesuaian untuk hubungan sosialnya. Sebelumnya, ia berkata lirih dan menghindari tatapan manusia. Bersembunyi dalam zona nyaman dibalik punggung ibunya. Untungnya ia tidak memiliki claustropobia (ketakutan terhadap ruang sempit).
Ada semacam pesta perayaan atas penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan oleh tubuh kecil Jack, yakni kebebasan menikmati keberadaan benda-benda lain secara nyata. Bukan dari cerita ibunya, maupun rekaan televisi. Namun, dibalik kesempatan untuk menikmati hal-hal baru, ternyata ia masih terikat kenangan dengan kubikel lamanya. Pada suatu kesempatan mengunjungi kubikel lama, ia merasa ruangnya menyusut. Bukan karena barangnya yang telah diamankan, namun karena pintunya telah terbuka.
“Saat usiaku empat tahun, aku tak mengerti apa-apa tentang dunia. Namun kini aku belajar untuk memahami dunia. Banyak hal yang mesti dicoba, meski terkadang terlihat menyeramkan.”- Jack
 Di usia yang telah menginjak angka 20, sudah sejauh apa kita menjelajah dunia? Namun, sejauh-jauhnya menjelajah ada kalanya waktu untuk pulang ke rumah. Kita semua membantu untuk saling kuat. Tidak ada yang kuat sendirian di tengah energi yang sedemikian besarnya.


Pesan dari Jakarta

Perjalanan menuju gedung ANRI Dalam rangka kuliah lapangan, kami sekelas bersepakat mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI...